Oleh: yang sekarang bernama Pauzan S.
Gadis berkerudung merah yang kadang menjelma di alam mimpi. Kadang datang di pagi hari atau hadir di sela tawa dan canda mereka. Gadis berkerudung merah yang dengan kehadirannya menambah satu warna baru dalam hidup mereka yang selama ini hanya punya dua warna yakni hijau dan hitam, gadis berkerudung merah juga menjadi penambah hangat kopi dan djisamsu dipagi hari. Gadis berkerudung merah juga menambah cerita tentang indahnya Nusantara.
Nusantara, nama bagi negeri mereka yang sudah lama hilang ditelan oleh angkuhnya sang waktu, sebuah nama yang mengingatkan kita akan kejayaan satu peradaban, keagungan satu nilai kehidupan, kekayaan warisan alam, serta semangat ksatria yang tiada terkira. Ya, dialah Nusantara yang tidak kalah indahnya dengan gadis berkerudung merah, menjadi perbincangan tiada henti untuk satu kesadaran tentang jati diri, hadir dalam bincang pagi untuk memupuk rasa percaya diri, mengukuhkan keberadaan jiwa-jiwa satria sejati, serta menjadi satu semangat untuk kebangkitan dalam kekaburan satu makna tentang negeri yang kita cintai, yang kini bingung untuk dimegerti.
Negeri kita kini, Indonesia namanya, republik pemerintahannya, pulau-pulau dalam bingkai kesatuan menjadi wilayahnya, berbagai macam adat, suku dan budaya menjadi cirinya, dipimpin oleh satu presiden, SBY panggilannya. Perbincangan tentang negeri ini tak kalah menarik dan seksi dibanding dengan gadis berkerudung merah atau kejayaan nusantara, ia juga datang menyela dalam bincang pagi atau bincang penutup hari, walau terkadang perbincangan tentangnya menimbulkan rasa pesimis, bahkan menguras emosi, dan tak jarang kata-kata umpatan keluar dari mulut yang bau nikotin. Ya, begitulah keadaannya, umpatan pada penguasa negeri yang berlagak pahlawan untuk menegakkan keadilan, kesejahteraan dan kedaulatan. Walau akhirnya kita juga mengerti bahwa yang berlagak pahlawan hanya bisa berbicara, bercerita dan bersilat lidah.
Kalau hanya sekedar berbicara dan berbicara, kita juga sering berbicara tentang mulianya karakter para Anbiya, tentang luhurnya jalan suci para Auliya’, atau bahkan berbicara tentang perjuangan serta rintihan suci para Ahlu Bait Nabi. Kalau hanya bisa berbicerita tak mesti jadi pejabat, apalagi harus jadi presiden. Kita juga bisa bercerita bahkan dari pagi sampai zuhur tak jarang sampai menjelang asar, dan cerita kita juga tak kalah hebatnya, kita bercerita tentang besarnya Sriwijaya, tangguhnya raja Brawijaya serta keturunannya, tentang seorang patih Gajah Mada, atau tentang Padjajaran dan gagahnya Prabu Siliwangi. Cerita lain yang menarik , ada cerita cinta Arok, Umang dan Dedes, Dyah Pitaloka, cerita cinta Putri Jeggala, atau bahkan cerita cinta pangeran Jagadhita dan putri Sobakencana. Itu yang saya bilang kalau sekedar cerita, mereka juga bisa cerita tak mesti harus jadi pejabat.
Terakhir, kembali ke dia gadis berkerudung merah, saya tak pernah tau yang mana gadis berkerudung merah dalam bincang mereka, tapi siapapun dia, paling tidak ceritanya memberi makna dalam ruang sesak hidup kekinian, ia menjadi pengantar bagi bincang sejarah nusantara lama, ia menjadi awal dari cerita kekecewaan tentang negeri ini beserta para penguasanya, gadis berkerudung merah juga telah menghantarkan kita pada kisah suci para perempuan tangguh yang pernah ada, ia juga menjadi inspirasi untuk mengerti kisah cinta para raja-raja dan pangerannya. Kawan, semua yang bincang yang hadir, mulai gadis berkerudung merah, kejayaan nusatara, kisah suci para Nabi dan para Wali, kisah cinta para raja dan pangerannya, dan kisah tentang bobroknya para penguasa kita, semua dirangkum dalam episode-episode forum pagi di bagian depan sebuah kontrakan, yang bernama Hauzah Banguntapan. Wallahu a’lam bisshowab.
Read More..
Guntur Al-Basmahi
Berani Hidup Tak Takut Mati... Takut Mati Jangan hidup... Takut Hidup Mati Saja...
Jumat, 17 Februari 2012
Rabu, 15 Februari 2012
Aku, Kopi Dan Selinting Tembakau
Ini adalah satu babak dari episode panjang dari sebuah cerita yang pernah dilwati, ini hanya satu parade yang sangat singkat dalam sebuah pentas panggung kehidupan, ini hanyalah sebuah riak kecil dari gelombang besar emosi anak manusia. kisah ini hanyalah satu dari sekian banyak aktivitasku yang bisa jadi tiada berguna apalagi bermakna. Akan tetapi inilah kisahku, berguna atau tidak, mudharat apa manfaat, bermakna atau sia-sia bukanlah menjadi hal yang penting lagi setidaknya dalam kontek ini. Dan inilah kisahku.
Hening menyambutku ketika pintu kamarku aku buka, kamar paling belakang yang sangat terpncil dari ruang manapun di Rumah tua ini. Kamar yang hanya "bisa" di masuki oleh orang-orang tertentu, yang yang hanya karab dengan kesunyian, hanya suara cicit tikus yang kerap terdengan menjelang azan subuh berkumandang. Kamar yang hanya menyisakan bau tak sedap, dan bau kertas-kertas lusuh yang berumur puluhan tahun. kamar ini pula yang memendam begitu banyak rahasia para penghuninya semenjak puluhan tahun silam. apapun itu inilah kamarku. dan ia adalah sebuah kamar.
Melewati ruang tengah yang tetap terasa sepi dan hening juga, aku melangkah menuju kamar mandi, ya kamar mandi yang langsung berhadapan dengan dapur. ya dapur dan dan kamar mandi dua hal penting bagi sebuah rumah dan penguninya mengingat dua hal tersebut adalah yang asangat vital bagi penghuninya. Kutoleh sejenak jam didinding yang menempel di atas pintu, ahh... ternyata masih jam tiga dini hari ada waktu satu jam setengah untuk menunggu azan subuh.
berrrrr... dinginnya air menyapa mukaku, membuat kantuk hilang dan ruhku kembali berkumpul yang kemudian memulihkan semua kesadaran, maataku kupaksa untuk melek dengan membasuhnya sebanyak mungkin, agak pedih emang tapi itulah solusi biar otak bisa memerintahkan mata unut tetap terjaga. masuk kembali ke ruang tengah, aroma keheningan masih saja tercium mesra, arsip arsip tua yang setia menjadi saksi bagi para penghuninya.....
Langkahku diam, penuh waspada, ada kekhawatiran kalu menimbulkan suara akan mengganggu perjalanan mimpi penghuni rumah, baik yg terlihat maupun yang ghib.. derit pintuku sebisa mungkin ku minimalkan agar mereka tetap tenang dalam buaian mimpi. Antara enggan dan tuntutan bertarung dalam benakku, pertarung dalam melaksanakan tugasku sebagai hamba, ini adalah pertarungan nurani dan nafsuku. Walau tampak tak menang sepenuhnya,, nuraniku unggul untuk tetap melaksanakan tugas tersebut...
Hening... konsentrasiku penuh... ntah di dunia mana aku kini, seperti hilang di tengah keramaian jagad semesta, masuk dalam sebuah relitas yang sesungguhnya, realitas tak berwktu apalagi mempunyai ruang. Kondisi ini membuat aku tak tahu siap diriku, seakan berubah dari segumpal daging menjadi sesuatu yang tak terdefinisikan...
pedar-pedar cahaya menghiasi sekelelingku, ada terang yang semakin benderang hadir dan semakin mendekat. Akalku tak mampu mencerna apa yang sedang terjadi, hatiku pun mulai meraba dan merasa, cahaya apa ini? belum sempat meniimati terangnya cahaya ini lebih dalam kesadaranku kembali sepenuhnya... otakku langsung menyadari bahwa aku telah kembali ke ruang ini, kamar sempitku di balakang, waktu kini, menjelang muculnya garis putih tanda fajar akan segera tiba..
Sunyi kembali menyergapku, tak ada igauan yang menghiasi tidur teman-temanku, tak ada suara cicit curut yang biasa hadir... pandanganku terpaku pada pintu triplek yang telah lama menutupi rahasia penghuni kamar ini, kiri kanan tembok beton kamarku tak lelah berbicara dan menjelaskan bahwa mereka masih setia menyimpan misteri penunggu kamar ini, dan bersedia akan menjadi saksi kelak di hari pertanggung jawaban.
Assalamu'alaikum... Terdengar bel ototmatis tetangga sebelahku berbunyi, itu pertanda sebentar lagi kumandang azdan subuh akan menghiasi langit jogjakarta... sebuah tanda akan dimulai aktifitas kehidupan manusia yang ada di kota ini. aku membereskan tugask malam ini dengan menyisakan banyak pertanyaan.
Kopi, ya segelas kopi akan membuatku lebih fresh dalam berfikir, paling tidak menghilangkan kantuk yang masih tersisa. Aku tengok persediaan Gula dan Kopi, serak bungkus kopi langsung menhiasi pandangan, genangan kecil air di atas meja sisa tumpah air seakan berbicara tentang satu kondisi... Selagi menunggu air mendidih, kusiapkan gelas untuk kopiku pagi ini, dua setengah sendok kopi sudah mengisi gelasku, kubereskan yang masih terserak, kebersihkan yang masih terlihat kotor, kebiasaan yang sudah lama tidak aku lakukan...
Segelas kopi panas menyertaiku dalam hening fajar, menemani serta merangsang sesak fikirku tentang semua. Kepala yang hanya berukuran sebesar bola takraw ini dipenuhi berbagai macam fikir, bahkan ruwet macet ibukota pun tak bisa mengalahkannya, kadang ia hadir dalam satu fikir tentang sebuah status dan gengsi sebagai seorang yang terpelajar, kemudian melompat tentang fikir seorang sahabat yang penuh dengan problematika persahabatan, ahh, bukan problematika tapi dinamika, pertemuan, kebutuhan, kasih sayang, dan sederet tanggung jawab sebagai seorang teman atau sahabat. Tidak jarang juga fikir tentang seorang hamba datang memotong dan menyalip dalam mesra fikirku tentang kisah anak manusia yang dipenuhi getar-getar rasa yang berevolusi kedalam satu kisah asmara... ya, fikir sebagai hamba selalu datang dalam setiap fikirku mengenai apapun juga, bahkan pada tingkat laku pun ia kadang memotong dan mengacaukan segalanya. Celaka...!!! bentak egoku pada diriku, kenapa kau tak bisa walau sedikit menikmati sedikit saja dari kenikmtan badani ini... hahahahahaha.... nurani dalam batin jiwaku terbahak tertawa seakan ialah penguasa atas badan fana nan nista ini... seakan ialah yang memegang kunci gembok besar penjara fisikku... ah.. sudahlah rasioku hanya bisa menggerutu dengan ketidakpuasannya dalam menjelasakan semuanya.
ting tung.. asslamu'alaikum.... kembali suara salam elektrik membawaku keduniaku kini, pada waktu menjelang subuh, pada ruang depan rumah tua ini... kulirik kepulan asap dari gelas kopiku mulai berkurang sebuah pertanda kadar panasnya mulai turun, itu berarti syaraf lidahku udah mulai berdamai untuk mencicipinya... sruutt... jelas terdengar hirupan ketiga pada kopiku itu, jelas terdengar karena memang belum ada suara lagi selain suara itu.
Sekilas tampak pada mataku sebuah lambang yang sepenuhnya tidak aku mengerti kenapa ia di cipta, sebuah simbol yang bagiku sangat angkuh, setidaknya dalam kesanku fajar ini. Ya itu sebuah tanda yang tak pernah dimaknai sebagai sebuah penanda... hanya saja ia begitu kokoh kemudian menjadi angkuh walau kemudian ia akan rapuh, retak bahkan hilang termakan rayap. Tapi ia begitu berarti dam rumah ini, seakan ia merupakan salah satu dari sekian banyak cahaya ilahi, menjadi spirit tersendiri bagi para penghuni, yang menggerakkan setiap nurani -yang juga bagian dari cahaya ilahi- untuk tetap tegak menantang halang rintang sebuah perjuangan. Hmm, (mungkin) tak penting lagi untuk mengetahui sebuah arti dari lambang dan simbol itu, karena (mungkin) ia sudah menjadi darah itu sendiri.
Sebuah teriak kecil dari bibirku yang langsung membuat otakku kaget alang kepalang, yang dengan waktu sepersekian detik langsung beri perintah kepada mata, tangan, bibir, hidung dan paru-paruku, sehingga terciptalah sebuah tindakan ... puss.... asap selinting tembakau yang kuhisap membumbung... menyeruak pada udara depan rumah tua ini...
Satu fikir tentang sebuah zikir yang tak lazim, aksi yang bagi manusia kini adalah satu kesia-siaan yang tak ada toleransi, dengan dalih karena ia berbahaya. Ya, asap itu tidakkah ia salah satu makhluk yang bertasbih dan selalu memujanya? atau ia hanya sekadar kumpulan dari zat-zat adiktif yang sangat berbahaya? hmm.. konspirasi licik apa lagi ini? ah sudahlah, kau manusia kini, hanya seonggok daging yang banyak berbicara, celoteh sana sini, berdalih ini itu, padahal tak pernah tahu apa-apa... ah kau manusia kini, kau timbun jiwa sucimu dengan sampah 'ilmiahmu',..
Tak tahukah bahwa jiwamu berontak dan sangat tersiksa dengan kuburan yang kau ciptakan...
Nikmat rasa dari selinting tembakau ini terus saja kunkmati, seirng itu juga kepulan asapnya semakin membumbung, ntah ia hilang, atau menyatu dengan udara sumpek kamar depan ini atau juga ia bertemu dengan sekian banyak asap yang semakin membumbung tinggi ke angkas hitam hari ini. Fikirku juga langsung melayang pada sebuah desa di kaki gunung di sebuah kabupaten di jawa Tengah. sebuah desa yang kebanyakan pencarian ereka adalah bertani tembakau, ah.. bukan cuma ptaninya, akan tetapi juga para buruhnya, yang berkejar dengan cuaca dan kondisi alam yg tak menentu, sebagaimana mereka berkejar dengan hidup serta kehidupan mereka yang tak pernah berhenti, makan, seklah anak, kebutuhan rumah tangga, dan sederet ktidak menetuan lainnya. ya, tembakau yang penen serta hasilnya sangat bergantung dengan kondisi alam, gmana jadinya panen mereka kalau hujan terus mengguyur atau panas terus menerpa, belum lagi tingakah para cukong, tengkulak, dan perusahaan yang bisa menetukan hrga seenakanya karen memang mereka yang kasih hutang buat mopdal bertaninya... ahhh... indonesiaku... yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.
aku hirup kembali kopiku.... serttt... begitu air hitam itu menyentuh lidahku dan melewtai tenggorokan dan sampai keperut, aku mendapatkan satu rasa yang ku beri nama nikmat. Sekejap saja rasa itu aku nikmati, kemudian aku langsung berada pada satu kondisi yang mana dihadapanku tampak wajah-wajah letih nan lelah, wajah-wajah bertabur keringat yang bercmpur debu. Ya... itulah wajah para petani kopi yang lelah selama berbulan-bulan mengurus kebunnya, yang kemudian berakhir dengan harga jual yang hanya menutupi kebutuhan dasar kehidupan mereka. Letih... Lelah... perjuangan panjang untuk mengubah butiran hijau merah kopi menjadi hijau merah kertas yang bernama uang rupiah... tapi harus bagaiman inilah yang sudah lama dilakukan, dan inilah yang bisa kami kerjakan,,, kira-kira begitulah mereka bicara.
Selinting tembakauku dan segelas kopiku sudah memuai dan menyatu dengan dan dalam ragaku, entah fikir atau bayangku akan kopi dan selinting tembakauku pun sudah berakhir pada fakta bahwa aku masih disini duduk pada shofa kamar depan rumah tua ini, sebuah fakta yang mengatakan bahwa aku belum berbuat apa-apa.
satu kesadaran akan tanggung jawab kembali hadir pada saat-saat seperti ini, dan kembali pergi pada saat-saat berikutnya. kulangkahkan kakiku kembali kekamar belakang, kulihat tembok, lemari, dan rak bukuku masih tetap seperti awalnya tak berubah apalagi berpindah, karena memang tugasnya ada disana... bukan seperti diriku yang tetap dan mantap karena tak tahu tugas apa yang sedng aku emban sekarang. mataku kembali menjelajahi setiap sudut dari kamar ini, entah aku yang sedih, atau mereka yang bersedih, ini adalah malam terakhirku disini, dan ini adalah fajar terakhirku aku disini, dan ini adalah sudut terakhirku dalam setiap inci aktivitas rumah tua ini... ya... aku akan pergi, bahsa sederhananya akau akan pindah, ntah karena apa dan untuk apa nyatanya aku harus pindah. aku masih berharap ada yang mengingatku selama aku di rumah tua ini, dan ini wajar aja sebenarnya, akan tetapi sisiku yang lain berbicara keras, ' Tidak ada yang akan mengingat aktivitasmu di rumah tua ini, apalgi memperhitungkan dirimu sebagai seorang yng berarti bagi keberadaan Rumah Tua ini, yang mereka ingat hanya tiga hal saja, Fisikmu, Kopimu, dan Selinting tembakau mu...
................Tamat.............
Read More..
Hening menyambutku ketika pintu kamarku aku buka, kamar paling belakang yang sangat terpncil dari ruang manapun di Rumah tua ini. Kamar yang hanya "bisa" di masuki oleh orang-orang tertentu, yang yang hanya karab dengan kesunyian, hanya suara cicit tikus yang kerap terdengan menjelang azan subuh berkumandang. Kamar yang hanya menyisakan bau tak sedap, dan bau kertas-kertas lusuh yang berumur puluhan tahun. kamar ini pula yang memendam begitu banyak rahasia para penghuninya semenjak puluhan tahun silam. apapun itu inilah kamarku. dan ia adalah sebuah kamar.
Melewati ruang tengah yang tetap terasa sepi dan hening juga, aku melangkah menuju kamar mandi, ya kamar mandi yang langsung berhadapan dengan dapur. ya dapur dan dan kamar mandi dua hal penting bagi sebuah rumah dan penguninya mengingat dua hal tersebut adalah yang asangat vital bagi penghuninya. Kutoleh sejenak jam didinding yang menempel di atas pintu, ahh... ternyata masih jam tiga dini hari ada waktu satu jam setengah untuk menunggu azan subuh.
berrrrr... dinginnya air menyapa mukaku, membuat kantuk hilang dan ruhku kembali berkumpul yang kemudian memulihkan semua kesadaran, maataku kupaksa untuk melek dengan membasuhnya sebanyak mungkin, agak pedih emang tapi itulah solusi biar otak bisa memerintahkan mata unut tetap terjaga. masuk kembali ke ruang tengah, aroma keheningan masih saja tercium mesra, arsip arsip tua yang setia menjadi saksi bagi para penghuninya.....
Langkahku diam, penuh waspada, ada kekhawatiran kalu menimbulkan suara akan mengganggu perjalanan mimpi penghuni rumah, baik yg terlihat maupun yang ghib.. derit pintuku sebisa mungkin ku minimalkan agar mereka tetap tenang dalam buaian mimpi. Antara enggan dan tuntutan bertarung dalam benakku, pertarung dalam melaksanakan tugasku sebagai hamba, ini adalah pertarungan nurani dan nafsuku. Walau tampak tak menang sepenuhnya,, nuraniku unggul untuk tetap melaksanakan tugas tersebut...
Hening... konsentrasiku penuh... ntah di dunia mana aku kini, seperti hilang di tengah keramaian jagad semesta, masuk dalam sebuah relitas yang sesungguhnya, realitas tak berwktu apalagi mempunyai ruang. Kondisi ini membuat aku tak tahu siap diriku, seakan berubah dari segumpal daging menjadi sesuatu yang tak terdefinisikan...
pedar-pedar cahaya menghiasi sekelelingku, ada terang yang semakin benderang hadir dan semakin mendekat. Akalku tak mampu mencerna apa yang sedang terjadi, hatiku pun mulai meraba dan merasa, cahaya apa ini? belum sempat meniimati terangnya cahaya ini lebih dalam kesadaranku kembali sepenuhnya... otakku langsung menyadari bahwa aku telah kembali ke ruang ini, kamar sempitku di balakang, waktu kini, menjelang muculnya garis putih tanda fajar akan segera tiba..
Sunyi kembali menyergapku, tak ada igauan yang menghiasi tidur teman-temanku, tak ada suara cicit curut yang biasa hadir... pandanganku terpaku pada pintu triplek yang telah lama menutupi rahasia penghuni kamar ini, kiri kanan tembok beton kamarku tak lelah berbicara dan menjelaskan bahwa mereka masih setia menyimpan misteri penunggu kamar ini, dan bersedia akan menjadi saksi kelak di hari pertanggung jawaban.
Assalamu'alaikum... Terdengar bel ototmatis tetangga sebelahku berbunyi, itu pertanda sebentar lagi kumandang azdan subuh akan menghiasi langit jogjakarta... sebuah tanda akan dimulai aktifitas kehidupan manusia yang ada di kota ini. aku membereskan tugask malam ini dengan menyisakan banyak pertanyaan.
Kopi, ya segelas kopi akan membuatku lebih fresh dalam berfikir, paling tidak menghilangkan kantuk yang masih tersisa. Aku tengok persediaan Gula dan Kopi, serak bungkus kopi langsung menhiasi pandangan, genangan kecil air di atas meja sisa tumpah air seakan berbicara tentang satu kondisi... Selagi menunggu air mendidih, kusiapkan gelas untuk kopiku pagi ini, dua setengah sendok kopi sudah mengisi gelasku, kubereskan yang masih terserak, kebersihkan yang masih terlihat kotor, kebiasaan yang sudah lama tidak aku lakukan...
Segelas kopi panas menyertaiku dalam hening fajar, menemani serta merangsang sesak fikirku tentang semua. Kepala yang hanya berukuran sebesar bola takraw ini dipenuhi berbagai macam fikir, bahkan ruwet macet ibukota pun tak bisa mengalahkannya, kadang ia hadir dalam satu fikir tentang sebuah status dan gengsi sebagai seorang yang terpelajar, kemudian melompat tentang fikir seorang sahabat yang penuh dengan problematika persahabatan, ahh, bukan problematika tapi dinamika, pertemuan, kebutuhan, kasih sayang, dan sederet tanggung jawab sebagai seorang teman atau sahabat. Tidak jarang juga fikir tentang seorang hamba datang memotong dan menyalip dalam mesra fikirku tentang kisah anak manusia yang dipenuhi getar-getar rasa yang berevolusi kedalam satu kisah asmara... ya, fikir sebagai hamba selalu datang dalam setiap fikirku mengenai apapun juga, bahkan pada tingkat laku pun ia kadang memotong dan mengacaukan segalanya. Celaka...!!! bentak egoku pada diriku, kenapa kau tak bisa walau sedikit menikmati sedikit saja dari kenikmtan badani ini... hahahahahaha.... nurani dalam batin jiwaku terbahak tertawa seakan ialah penguasa atas badan fana nan nista ini... seakan ialah yang memegang kunci gembok besar penjara fisikku... ah.. sudahlah rasioku hanya bisa menggerutu dengan ketidakpuasannya dalam menjelasakan semuanya.
ting tung.. asslamu'alaikum.... kembali suara salam elektrik membawaku keduniaku kini, pada waktu menjelang subuh, pada ruang depan rumah tua ini... kulirik kepulan asap dari gelas kopiku mulai berkurang sebuah pertanda kadar panasnya mulai turun, itu berarti syaraf lidahku udah mulai berdamai untuk mencicipinya... sruutt... jelas terdengar hirupan ketiga pada kopiku itu, jelas terdengar karena memang belum ada suara lagi selain suara itu.
Sekilas tampak pada mataku sebuah lambang yang sepenuhnya tidak aku mengerti kenapa ia di cipta, sebuah simbol yang bagiku sangat angkuh, setidaknya dalam kesanku fajar ini. Ya itu sebuah tanda yang tak pernah dimaknai sebagai sebuah penanda... hanya saja ia begitu kokoh kemudian menjadi angkuh walau kemudian ia akan rapuh, retak bahkan hilang termakan rayap. Tapi ia begitu berarti dam rumah ini, seakan ia merupakan salah satu dari sekian banyak cahaya ilahi, menjadi spirit tersendiri bagi para penghuni, yang menggerakkan setiap nurani -yang juga bagian dari cahaya ilahi- untuk tetap tegak menantang halang rintang sebuah perjuangan. Hmm, (mungkin) tak penting lagi untuk mengetahui sebuah arti dari lambang dan simbol itu, karena (mungkin) ia sudah menjadi darah itu sendiri.
Sebuah teriak kecil dari bibirku yang langsung membuat otakku kaget alang kepalang, yang dengan waktu sepersekian detik langsung beri perintah kepada mata, tangan, bibir, hidung dan paru-paruku, sehingga terciptalah sebuah tindakan ... puss.... asap selinting tembakau yang kuhisap membumbung... menyeruak pada udara depan rumah tua ini...
Satu fikir tentang sebuah zikir yang tak lazim, aksi yang bagi manusia kini adalah satu kesia-siaan yang tak ada toleransi, dengan dalih karena ia berbahaya. Ya, asap itu tidakkah ia salah satu makhluk yang bertasbih dan selalu memujanya? atau ia hanya sekadar kumpulan dari zat-zat adiktif yang sangat berbahaya? hmm.. konspirasi licik apa lagi ini? ah sudahlah, kau manusia kini, hanya seonggok daging yang banyak berbicara, celoteh sana sini, berdalih ini itu, padahal tak pernah tahu apa-apa... ah kau manusia kini, kau timbun jiwa sucimu dengan sampah 'ilmiahmu',..
Tak tahukah bahwa jiwamu berontak dan sangat tersiksa dengan kuburan yang kau ciptakan...
Nikmat rasa dari selinting tembakau ini terus saja kunkmati, seirng itu juga kepulan asapnya semakin membumbung, ntah ia hilang, atau menyatu dengan udara sumpek kamar depan ini atau juga ia bertemu dengan sekian banyak asap yang semakin membumbung tinggi ke angkas hitam hari ini. Fikirku juga langsung melayang pada sebuah desa di kaki gunung di sebuah kabupaten di jawa Tengah. sebuah desa yang kebanyakan pencarian ereka adalah bertani tembakau, ah.. bukan cuma ptaninya, akan tetapi juga para buruhnya, yang berkejar dengan cuaca dan kondisi alam yg tak menentu, sebagaimana mereka berkejar dengan hidup serta kehidupan mereka yang tak pernah berhenti, makan, seklah anak, kebutuhan rumah tangga, dan sederet ktidak menetuan lainnya. ya, tembakau yang penen serta hasilnya sangat bergantung dengan kondisi alam, gmana jadinya panen mereka kalau hujan terus mengguyur atau panas terus menerpa, belum lagi tingakah para cukong, tengkulak, dan perusahaan yang bisa menetukan hrga seenakanya karen memang mereka yang kasih hutang buat mopdal bertaninya... ahhh... indonesiaku... yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.
aku hirup kembali kopiku.... serttt... begitu air hitam itu menyentuh lidahku dan melewtai tenggorokan dan sampai keperut, aku mendapatkan satu rasa yang ku beri nama nikmat. Sekejap saja rasa itu aku nikmati, kemudian aku langsung berada pada satu kondisi yang mana dihadapanku tampak wajah-wajah letih nan lelah, wajah-wajah bertabur keringat yang bercmpur debu. Ya... itulah wajah para petani kopi yang lelah selama berbulan-bulan mengurus kebunnya, yang kemudian berakhir dengan harga jual yang hanya menutupi kebutuhan dasar kehidupan mereka. Letih... Lelah... perjuangan panjang untuk mengubah butiran hijau merah kopi menjadi hijau merah kertas yang bernama uang rupiah... tapi harus bagaiman inilah yang sudah lama dilakukan, dan inilah yang bisa kami kerjakan,,, kira-kira begitulah mereka bicara.
Selinting tembakauku dan segelas kopiku sudah memuai dan menyatu dengan dan dalam ragaku, entah fikir atau bayangku akan kopi dan selinting tembakauku pun sudah berakhir pada fakta bahwa aku masih disini duduk pada shofa kamar depan rumah tua ini, sebuah fakta yang mengatakan bahwa aku belum berbuat apa-apa.
satu kesadaran akan tanggung jawab kembali hadir pada saat-saat seperti ini, dan kembali pergi pada saat-saat berikutnya. kulangkahkan kakiku kembali kekamar belakang, kulihat tembok, lemari, dan rak bukuku masih tetap seperti awalnya tak berubah apalagi berpindah, karena memang tugasnya ada disana... bukan seperti diriku yang tetap dan mantap karena tak tahu tugas apa yang sedng aku emban sekarang. mataku kembali menjelajahi setiap sudut dari kamar ini, entah aku yang sedih, atau mereka yang bersedih, ini adalah malam terakhirku disini, dan ini adalah fajar terakhirku aku disini, dan ini adalah sudut terakhirku dalam setiap inci aktivitas rumah tua ini... ya... aku akan pergi, bahsa sederhananya akau akan pindah, ntah karena apa dan untuk apa nyatanya aku harus pindah. aku masih berharap ada yang mengingatku selama aku di rumah tua ini, dan ini wajar aja sebenarnya, akan tetapi sisiku yang lain berbicara keras, ' Tidak ada yang akan mengingat aktivitasmu di rumah tua ini, apalgi memperhitungkan dirimu sebagai seorang yng berarti bagi keberadaan Rumah Tua ini, yang mereka ingat hanya tiga hal saja, Fisikmu, Kopimu, dan Selinting tembakau mu...
................Tamat.............
Read More..
Minggu, 08 Januari 2012
Sajak Diamku
Aku lena dengan indahanmu
Tidak… akulah yang menderita karena itu
Aku senang inilah surgaku
Tapi ini adalah penjaraku
Aku ingin lama bahkan abadi disini
Tapi bagiku ini hanya persinggahan
Lalu bagaimana dengan aku
Akulah yang harus bagaimana dengan aku
Atau… sudah waktunya kita bersatu…
-august ’11-
Nangislah diriku...
Ratapilah setiap likumu
tapi hanya di depan Sang Mahamu
Wajah-wajah itu
terkadang hadir
menghadirkan kecemburuan
bagiku teralalu kaku
Ada waktu untuk tertawa dan menangis
air mata akan hadir indah dengan hati...
bukan karena penyesalan
atau ratapan tak berarti
Tawa akan bergema indah
dengan hati penuh rasa
bahagialah dalam waktunya
tersenyumlah dalam deritanya
Atas nama Sang Maha, aku, kita,dan mereka,....
-KK ’11-
Setiap kali namamu kudengar
hatiku bergetar
bila disebut
aku menggigil, dingin, kaku…
rindu… rindu… rindu..
ya… kerinduan padaku yang tersingkirkan
oii… bukan diriku
diriku yang lain punya rindu itu
yang selama ini diam, hilang, tersingkirkan…
-kk ’11-
Ibu…
Cantikmu dalam pandangku
indah terlihat dalam inci ragamu
rupamu tak pernah serupa
engkau sorga dalam ingatku
Ibu…
Mereka iri melihatmu
karena kau bukan milik mereka
hartamu yang kau berikan
tak pernah habis walau sampai kapan
kasih dan sayangmu tak pernah pudar
walau engkau harus hancur karenanya
Ibu…
Izinkan aku setia padamu
membelamu sampai akhir hayatku
aku relakan darah ini untukmu
agar engkau tetap tersenyum
Ibu…
Damai kami dalam pelukmu…
-August’11
Deret kisah yang telah kau mulai
dihambat oleh perkasanya sang waktu
kesombongan waktu bahkan mulai menghapus cerita kita
aku ingin sejarah kita tertoreh abadi
Tak usah khawatirkan waktu
walau kita juga berharap padanya
akan membuktikan bahwa "cinta"
telah mengalir dalam darah
berdenyut pada nadi kehidupan
Jangan lelah untuk bertanya tentang kita
karena kita adalah sama
hingga nanti "kita" berubah menjadi "aku"
natikanlah...
Kekasihku....
-kk-
Bilakah masa itu akan datang
keperkasaan waktu akan menyibakkan
tabir rahasia dan misteri kehidupan
Hahaha...
ada yang mengingatkan
dari rekah bibir manisnya senyuman
tentang sebuah ketegaran
Tapi...
dimana senyum itu kini
ghaib bersama layu mawar pagi
tak kembang di terpa mentari
Kerinduan ini
menjadi bisul besar
di ujung malam dudukku
bersama sebatang samsu...
-kk-
Ada apa dengan kita
tak ada tatap mata atau sapa
diam bukan jawaban walau punya makna
atau karena jendela hati kita
Belum lagi terbuka
-kk-
Dalam pekat Malam
Hadir dengan diam
Di setiap hembusan nafas
menderu ada
pada kepulan asap Sam Soe
menari indah
dalam setiap yang kulihat
ia menjelma
akankah pertemuan kita akan mesra...
atau di hiasi derita dan nestapa
-kk-
Dan Semua yang terlihat adalah tiada...
lalu kemanakah yang Ada...
ada untuk meng-Ada kemudian berSatu....
-kk-
Masihkah harum-mu
Mawarku…
-kk
Read More..
Tidak… akulah yang menderita karena itu
Aku senang inilah surgaku
Tapi ini adalah penjaraku
Aku ingin lama bahkan abadi disini
Tapi bagiku ini hanya persinggahan
Lalu bagaimana dengan aku
Akulah yang harus bagaimana dengan aku
Atau… sudah waktunya kita bersatu…
-august ’11-
Nangislah diriku...
Ratapilah setiap likumu
tapi hanya di depan Sang Mahamu
Wajah-wajah itu
terkadang hadir
menghadirkan kecemburuan
bagiku teralalu kaku
Ada waktu untuk tertawa dan menangis
air mata akan hadir indah dengan hati...
bukan karena penyesalan
atau ratapan tak berarti
Tawa akan bergema indah
dengan hati penuh rasa
bahagialah dalam waktunya
tersenyumlah dalam deritanya
Atas nama Sang Maha, aku, kita,dan mereka,....
-KK ’11-
Setiap kali namamu kudengar
hatiku bergetar
bila disebut
aku menggigil, dingin, kaku…
rindu… rindu… rindu..
ya… kerinduan padaku yang tersingkirkan
oii… bukan diriku
diriku yang lain punya rindu itu
yang selama ini diam, hilang, tersingkirkan…
-kk ’11-
Ibu…
Cantikmu dalam pandangku
indah terlihat dalam inci ragamu
rupamu tak pernah serupa
engkau sorga dalam ingatku
Ibu…
Mereka iri melihatmu
karena kau bukan milik mereka
hartamu yang kau berikan
tak pernah habis walau sampai kapan
kasih dan sayangmu tak pernah pudar
walau engkau harus hancur karenanya
Ibu…
Izinkan aku setia padamu
membelamu sampai akhir hayatku
aku relakan darah ini untukmu
agar engkau tetap tersenyum
Ibu…
Damai kami dalam pelukmu…
-August’11
Deret kisah yang telah kau mulai
dihambat oleh perkasanya sang waktu
kesombongan waktu bahkan mulai menghapus cerita kita
aku ingin sejarah kita tertoreh abadi
Tak usah khawatirkan waktu
walau kita juga berharap padanya
akan membuktikan bahwa "cinta"
telah mengalir dalam darah
berdenyut pada nadi kehidupan
Jangan lelah untuk bertanya tentang kita
karena kita adalah sama
hingga nanti "kita" berubah menjadi "aku"
natikanlah...
Kekasihku....
-kk-
Bilakah masa itu akan datang
keperkasaan waktu akan menyibakkan
tabir rahasia dan misteri kehidupan
Hahaha...
ada yang mengingatkan
dari rekah bibir manisnya senyuman
tentang sebuah ketegaran
Tapi...
dimana senyum itu kini
ghaib bersama layu mawar pagi
tak kembang di terpa mentari
Kerinduan ini
menjadi bisul besar
di ujung malam dudukku
bersama sebatang samsu...
-kk-
Ada apa dengan kita
tak ada tatap mata atau sapa
diam bukan jawaban walau punya makna
atau karena jendela hati kita
Belum lagi terbuka
-kk-
Dalam pekat Malam
Hadir dengan diam
Di setiap hembusan nafas
menderu ada
pada kepulan asap Sam Soe
menari indah
dalam setiap yang kulihat
ia menjelma
akankah pertemuan kita akan mesra...
atau di hiasi derita dan nestapa
-kk-
Dan Semua yang terlihat adalah tiada...
lalu kemanakah yang Ada...
ada untuk meng-Ada kemudian berSatu....
-kk-
Masihkah harum-mu
Mawarku…
-kk
Read More..
Jumat, 06 Januari 2012
Arti Senyum Mu
Salam’alaikum innalillahi wa inna ilaihi roji’un, telah kemblai ke hadapan Allah saudari kita zahrohtusshofiyah pada tanggal 25 oktober 2009, semoga amal baiknya di terima Allah SWT. Sms dari seorangteman mengagetkan ku sore itu, dan aku lagi berad di rumah sakit, bagaimana tidak, malam hari iedul fitri ia masih kirim sms ke hpku…tertegun sejenak diriku, mencoba memahami kembali akan kekuasaan Allah.
Tidak langsung percaya aku telpon teman teman dekatnya, dan semua mengkonfirmasi bahwa berita itu benar adanya. Semoga Allah memudahkan jalanmu saudari untuk menuju kekekalan yang lebih indah dari dunia yang fana ini..hanya itu yang bias aku ucapkan dan itupun dalam hati.
Hidup bukanlah pilihan Karena aku tidak bisa dan tidak pernah memilih ketika aku dilahirkan, bagiku hidup merupakan suatu hal yang luar biasa, perjuangannya, penderitaanya, kesenangannya dan yang pastinya keindahannya, dan itu bisa aku rasakan ketika aku hidup dan berada di atas dunia ini. Bagiku hidup adalah anugrah dan aku harus menjalaninya.
Aku terlahir bukan sebagai sorang yang luar biasa, kelahiranku normal seperti kebanyakan bayi yang baru dilahirkan, keluar dari rahim seorang wanita yang kemudian aku panggil emak dengan tangisan yang tidak aku mengerti sampai sekarang, kenapa waktu itu aku menangis, tapi orang yang ada disekelilingku tertawa bahagia dan itu bisa aku mengerti sekarang bahwa keberadaanku di dunia ini berkah serta anugrah bagi mereka. Tepatnya 20 tahun yang silam disebuah kampong kecil di sebuah pulau yang dikelilingi lautan luas dan hal baru yang aku ketahui sekarang bahwa pulau tempat kelahiranku adalah salah satu pulau yang terkaya di dunia ini.
Masa kecilku cukup bahagia, dengan kedua orang tua yang menyayangiku serta kakak-kakakku yang sangat memperhatikanku. Seperti kebanyakan anak-anak yang lain aku banyak menghabiskan masa kecilku dengan bermain bersama teman-teman yang lain, dan pantai serta sungai adalah tempat favoritku dalam bermain. Aku tidak mengerti aku begitu menyukai air dan anehnya sampai sekarangpun aku tidak bisa berenang.
O ya… aku hampir lupa, aku terlahir dengan jenis kelamin perempuan, dan orang biasa memanggilku zahrah dan nama panjangku adalah zahrotusshofiyah, itulah nama yang diberikan orangtuaku kepadakau tanpa aku tahu maksud dan arti dari nama itu. Belakangan ketika aku masuk sekolah aku beru mengerti bahwa namaku mempunyai arti yang sangat bagus.
Begitu banyak kisah yang telah aku lalui di masa kecilku tapi yang mampir dan tertahan di benakku hanya beberapa bagian saja, ada beberapa cerita menyenangkan dan menyedihkan serta menggemaskan ketika aku kecil. Seperti kebanyakan penduduk di daerahku, bapak bekerja sebagai seorang nelayan dan emak akan membantu untuk mengolah hasil tangkapan bapak, dan yang paling sering emak membuat ikan menjadi ikan asin serta membikin terasi. Dengan profesi bapak sebagai seorang nelayan, keluarga kami hidup sederhana dan hasil dari pengolahan ikan cukup membantu keluarga kami untuk bertahan dengan kehidupan yang sederhana, bisa dilihat dari saudara-saudaraku hanya beberapa orang mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Tapi yang pastinya keluarga kami hidup dengan bahagia dan ini terbukti dengan masa kecilu yang cukup bahagia.
Suatu waktu, masih teringat ketika bapak mengajak aku untuk berjalan di pantai di suatu sore yang tidak begitu cerah. Kami duduk di atas batu besar, menikmati senja yang dengan pemandangan laut yang sangat luas. Bapak berkata ‘ zahroh, begitu luasnya laut dan begitu banyaknya apa yang ada di dalamnya dan semuanya hidup mendapatkan rizki dari Allah, jadi yang pernah takut untuk tidak bisa makan asal dirimu bisa menghargai kehidupan yang telah Allah berikan kuncinya Cuma satu berbuatlah dan bersyukur”.
Aku Cuma manggut-manggut aja ketika itu, maklum usia baru 12 tahun ketika bapak berkata seperti itu. Begitu juga ketika bersama emak di dapur, aku masih ingat dia berkata,” nak, memasak berarti bisa merasakan apa yang orang lain inginkan, kita sebagai perempuan yang nantinya mau tidak mau mesti bergelut dengan masakan harus bisa mengharagai orang yang kita masakkan, kita tidak boleh egois dengan memasak masakan yang sesuai dengan selera kita”, dan lagi-lagi aku Cuma diam mendengar kata emak.
Dua belas tahun aku hidup di desa dan bersama keluargaku. Aku un berencana untuk melanjutkan sekolah ke ibukota propinsi. Semua keluarga sepakat dan hari kebernagkatan pun tiba. Di satu sisi aku aka melihat dunia luar denga segudang pengalaman baru yang aka aku lalui, dan jauh dari orang-orang yang aku cintai di sisi lain. Tapi niatku sudah bulat dan aku harus rela untuk berpisah denga mereka. Fikiranku kembali bernostalgia pada waktu-waktu sedih, gembira, senyum dan tangisku selama aku ada di anah kelahirnaku ini, bayangan-bayangan akan sebuah keharmonisan keluarga, kerukunan masyrakat serta keakraban antara manusia dan alam. Masih teringa dalam benakku sosok-sosok hitam dengan kulit berkilat di timpa mentari ketika kita asyik mandi da berenag sbersam di sungai, dan kenangan itu menghasilkan sebuah senyum di bibirku. Senyum akan kenangan indah, senyum akan sebuah perpisahan, dan senyum getir akan harapan pertemuan di masa yang akan dating.
Semua keprluan yang akan aku bawa sudah siap semua, sekarang keluarga telah berkumpul untuk mengantarkan keberangkatan menuju kota provinsi, oya, akuy belum kasih tahu bahwa orang tuaku sanga ingin anaknya pandai dan tenjtunya yang paling pentiong adalah menajdai anak yang berakhlak mulia serta bermanfaat bagi ummat. Maka, pilihan yangj telah bapak dan ibuku tetapkan adalah pondok pesantren. Pondok pesantren kawan…! Adakah kalian pernah terbayang seperti apa tempat itu? Tempat yang –sejauh pengetahuanku dari tetangga- sangat mengekang hidup kita, sangat disiplin, dan tentunya kita akan bergabung dengan berbagai macam manusia dengan tingkah laku beragam juga tentunya. “Aku akan mencoba,” batinku yang berbicara. Ya akan aku lalui seperti apapun hidup disana, karena aku ingin orang tuaku bahagia.
to be continued....
Read More..
Tidak langsung percaya aku telpon teman teman dekatnya, dan semua mengkonfirmasi bahwa berita itu benar adanya. Semoga Allah memudahkan jalanmu saudari untuk menuju kekekalan yang lebih indah dari dunia yang fana ini..hanya itu yang bias aku ucapkan dan itupun dalam hati.
Hidup bukanlah pilihan Karena aku tidak bisa dan tidak pernah memilih ketika aku dilahirkan, bagiku hidup merupakan suatu hal yang luar biasa, perjuangannya, penderitaanya, kesenangannya dan yang pastinya keindahannya, dan itu bisa aku rasakan ketika aku hidup dan berada di atas dunia ini. Bagiku hidup adalah anugrah dan aku harus menjalaninya.
Aku terlahir bukan sebagai sorang yang luar biasa, kelahiranku normal seperti kebanyakan bayi yang baru dilahirkan, keluar dari rahim seorang wanita yang kemudian aku panggil emak dengan tangisan yang tidak aku mengerti sampai sekarang, kenapa waktu itu aku menangis, tapi orang yang ada disekelilingku tertawa bahagia dan itu bisa aku mengerti sekarang bahwa keberadaanku di dunia ini berkah serta anugrah bagi mereka. Tepatnya 20 tahun yang silam disebuah kampong kecil di sebuah pulau yang dikelilingi lautan luas dan hal baru yang aku ketahui sekarang bahwa pulau tempat kelahiranku adalah salah satu pulau yang terkaya di dunia ini.
Masa kecilku cukup bahagia, dengan kedua orang tua yang menyayangiku serta kakak-kakakku yang sangat memperhatikanku. Seperti kebanyakan anak-anak yang lain aku banyak menghabiskan masa kecilku dengan bermain bersama teman-teman yang lain, dan pantai serta sungai adalah tempat favoritku dalam bermain. Aku tidak mengerti aku begitu menyukai air dan anehnya sampai sekarangpun aku tidak bisa berenang.
O ya… aku hampir lupa, aku terlahir dengan jenis kelamin perempuan, dan orang biasa memanggilku zahrah dan nama panjangku adalah zahrotusshofiyah, itulah nama yang diberikan orangtuaku kepadakau tanpa aku tahu maksud dan arti dari nama itu. Belakangan ketika aku masuk sekolah aku beru mengerti bahwa namaku mempunyai arti yang sangat bagus.
Begitu banyak kisah yang telah aku lalui di masa kecilku tapi yang mampir dan tertahan di benakku hanya beberapa bagian saja, ada beberapa cerita menyenangkan dan menyedihkan serta menggemaskan ketika aku kecil. Seperti kebanyakan penduduk di daerahku, bapak bekerja sebagai seorang nelayan dan emak akan membantu untuk mengolah hasil tangkapan bapak, dan yang paling sering emak membuat ikan menjadi ikan asin serta membikin terasi. Dengan profesi bapak sebagai seorang nelayan, keluarga kami hidup sederhana dan hasil dari pengolahan ikan cukup membantu keluarga kami untuk bertahan dengan kehidupan yang sederhana, bisa dilihat dari saudara-saudaraku hanya beberapa orang mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Tapi yang pastinya keluarga kami hidup dengan bahagia dan ini terbukti dengan masa kecilu yang cukup bahagia.
Suatu waktu, masih teringat ketika bapak mengajak aku untuk berjalan di pantai di suatu sore yang tidak begitu cerah. Kami duduk di atas batu besar, menikmati senja yang dengan pemandangan laut yang sangat luas. Bapak berkata ‘ zahroh, begitu luasnya laut dan begitu banyaknya apa yang ada di dalamnya dan semuanya hidup mendapatkan rizki dari Allah, jadi yang pernah takut untuk tidak bisa makan asal dirimu bisa menghargai kehidupan yang telah Allah berikan kuncinya Cuma satu berbuatlah dan bersyukur”.
Aku Cuma manggut-manggut aja ketika itu, maklum usia baru 12 tahun ketika bapak berkata seperti itu. Begitu juga ketika bersama emak di dapur, aku masih ingat dia berkata,” nak, memasak berarti bisa merasakan apa yang orang lain inginkan, kita sebagai perempuan yang nantinya mau tidak mau mesti bergelut dengan masakan harus bisa mengharagai orang yang kita masakkan, kita tidak boleh egois dengan memasak masakan yang sesuai dengan selera kita”, dan lagi-lagi aku Cuma diam mendengar kata emak.
Dua belas tahun aku hidup di desa dan bersama keluargaku. Aku un berencana untuk melanjutkan sekolah ke ibukota propinsi. Semua keluarga sepakat dan hari kebernagkatan pun tiba. Di satu sisi aku aka melihat dunia luar denga segudang pengalaman baru yang aka aku lalui, dan jauh dari orang-orang yang aku cintai di sisi lain. Tapi niatku sudah bulat dan aku harus rela untuk berpisah denga mereka. Fikiranku kembali bernostalgia pada waktu-waktu sedih, gembira, senyum dan tangisku selama aku ada di anah kelahirnaku ini, bayangan-bayangan akan sebuah keharmonisan keluarga, kerukunan masyrakat serta keakraban antara manusia dan alam. Masih teringa dalam benakku sosok-sosok hitam dengan kulit berkilat di timpa mentari ketika kita asyik mandi da berenag sbersam di sungai, dan kenangan itu menghasilkan sebuah senyum di bibirku. Senyum akan kenangan indah, senyum akan sebuah perpisahan, dan senyum getir akan harapan pertemuan di masa yang akan dating.
Semua keprluan yang akan aku bawa sudah siap semua, sekarang keluarga telah berkumpul untuk mengantarkan keberangkatan menuju kota provinsi, oya, akuy belum kasih tahu bahwa orang tuaku sanga ingin anaknya pandai dan tenjtunya yang paling pentiong adalah menajdai anak yang berakhlak mulia serta bermanfaat bagi ummat. Maka, pilihan yangj telah bapak dan ibuku tetapkan adalah pondok pesantren. Pondok pesantren kawan…! Adakah kalian pernah terbayang seperti apa tempat itu? Tempat yang –sejauh pengetahuanku dari tetangga- sangat mengekang hidup kita, sangat disiplin, dan tentunya kita akan bergabung dengan berbagai macam manusia dengan tingkah laku beragam juga tentunya. “Aku akan mencoba,” batinku yang berbicara. Ya akan aku lalui seperti apapun hidup disana, karena aku ingin orang tuaku bahagia.
to be continued....
Read More..
Minggu, 16 Januari 2011
sebuah catatan
Sebuah catatan Tentang Bread, Love, and Dream
Oleh: Guntur Akbar
“Dan katakanlah kebenaran telah dating dan kebathilan telah lenyap, sesungguhnya kebatilan akan benar benar hilang dan musnah”
Kehidupan yang dijalani oleh manusia di dunia, bersama makhluk ciptaan yang lainnya adalah sebuah perjalanan yang panjang dan penuh dengan misteri. Manusia dengan segala kelebihannya -sebagai mahkluk yang sempurna- dan dengan segala kekurangannya -sebagai hamba di hadapan pencipta- telah di siapkan bekal oleh pencipta untuk mengarungi misteri misteri yang akan di jalani.
Tulisan ini adalah hanya sekadar sebuah catatan tentang sebuah film, film yang tidak aku ingat sutradaranya, apalagi nama-nama bintangnya. Mungkin itu penting tapi yang lebih penting sbenarnya apa yang bisa kita ambil dari film tersebut. Film ini terdiri dari 30 episode, butuh 3 hari untuk menyelesaikannya, butuh kesiapan emosi untuk menontonnya karena alur cerita yang begitu dramatis, melankolis, humoris, meneganggkan sekaligus menjengkelkan. Ketika kita nonton film ini maka kita akan diajak tertawa, menangis, merenung, marah dan berifkir serius. Its so complicated.
Secara ringkas film ini bercerita tentang sebuah konspirasi besar dalam sebuah keluarga untuk merebutkan warisan perusahaan, sebuah perusahaan roti yang besar dan telah diwariskan turun temurun. Konspirasi ini dimulai dan dilakukan oleh pihak keluarga (istri) sang pengusaha. Dan ini tidak lain karena sang isri tidak bisa melahirkan seorang anak laki-laki, walau akhirnya dia melahirkan anak laki-laki dari hasil perselingkuhannya dengan seorang manager perusahaan, yang tidak lain adalah seorang kepercayaan big boss.
Ditengah harapan sang suami untuk mempunyai anak laki-laki, ia terjebak cinta semalam dengan perawat pribadinya dan menghasilkan seorang anak laki-laki yang jenius. Dengan kelahiran inilah maka konspirasi besar itu dimulai. Persaingan untuk mendapatkan simpati big boss pun dilakukan. Dan inilah sebuah cerita tentang roti, cinta dan mimpi. Sebuah drama Korea yang menarik, sarat dengan pelajaran, hikmah kehidupan, moralitas, kejujuran, etos kerja, perjuangan tanpa akhir, dan sebuah kekuatan dari mimpi.
Kalau mau di ambil pelajaran dari film ini tentunya ada bebarapa aspek yang bisa kita ambil, pendidikan, ekonomi, hukum, social, dan tentunya apa yang kita sebut dengan moralitas. Akan tetapi kita ambil satu saja hikmahnya, sebuah hikmah dari sebuah sudut pandang kemanusian. Dan tentunya ini erat berkaitan dengan apa yang tidak dimiliki oleh makhluk lain selain manusia, yakni sebuah hati nurani, dan ini kita sebut dengan fitroh.
Berbicara tentang hati nurani tentunya tidak akan membedakan agama ataupun suku bangsa, karena hati nurani adalah nilai universal yang dimiliki oleh setiap manusia, dia adalah nilai dasar bagi sebuah kebaikan manusia, ia tidak bisa di pengaruhi oleh kepentingan politik, tidak bisa di beli dengan materi duniawi, apalagi untuk sebuah ambisi yang sama sekali tidak manusiawi, karena ia langsung dibimbing oleh cahaya ilahi, cahaya Tuhan yang Maha Suci.
Tokoh utama dalam film ini (Kim Tak Gu) adalah orang yang selalu berbuat baik, selalu menuruti hati nuraninya sebagai manusia, memaafkan setiap kesalahan yang orang lain lakukan, bahkan ia sanggup berbuat baik terhadap orang yang telah mencelakakannya dan memisahkanya dengan orang tuanya. Inilah adalah sosok yang sekarang sangat sulit dicari, sifat yang dimiliki oleh para Nabi, Budha, Yesus, dan orang-orang yang disucikan dalam berbagai agama. Sebuah sifat yang mengilhami banyak orang, lingkungan sekitar bahkan masyarakat dunia.
Kim Tak Gu adalah seorang yang bahkan SD pun tidak selesai, sorang yang besar dan tumbuh berkembang di jalanan, dan guru bagi dirinya adalah kehidupan itu sendiri. Dalam umur yang masih 12 tahun ia harus mencari sosok seorang ibu, yang selama ini ia hormati, ia teladani, dan kata-katanya yang mejadi pegangan hidupnya. Nasehat ibunya… ya hanya nasehat itulah yang ia pegang, nasehat yang telah menjadi teks suci bagi dirinya. Hanya nasehat itulah yang akhirnya menghantarkanya untuk sebuah pertemuan yang sangat dramatis bagi ibunya. Kejujuran, rendah hati, pemaaf, peduli kepada orang lain dan kerja keras, itulah kalimat yang sederhana yang dinasehatkan oleh sang ibu, dan itu terpatri dalam sanubarinya.
Dalam perjalannya mencari sang ibu ia menghadapi banyak sekali rintangan, mulai dari usaha ibu tirinya, manager perusahaan bapaknya, saudara tirinya lain ibu, serta seorang lagi yang menjadi anak tiri bapaknya. Semua ia hadapai dengan senyuman, semua ia hadapi dengan hati yang ikhlas, semua perbuatan jahat ia balas dengan senyum dan kebaikan. Oii… manusia jenis apa ini, hanya dengan perbuatannya ia bisa mengubah banyk hal, hanya dengan sikapnya ia bisa menarik simpati banyak orang, hanya dengan sikapnya, banyak kebajikan ia hadirkan.
Kalau Sayyid Qutb dalam tafsirnya agatakan bahwa sebuah kebathilan yang besar sera terorganisir pada suatu saat akan tetap hancur dan musnah karena kebajikan yang dilakukan, sebuah perbuatan yang didasarkan pada hai nurani, senuah perbuatan yang dilakukan atas nama cita dasar kemanusiaan, sebuah perbuatan untuk menegakkan kebenaran. Dan memang sudah menjadi hokum bahwa kebenaran akan selalu menang.
Inilah kekuatan dari seorang manusia, ketika ia bisa menjalankan apa yang di katakan hati nuraninya, maka sekuata papaun kejahatan yang menggoyang ia akan tetap hidup sebagai manusia yang terhormat. Dan ini tidak begiu saja ia dapatkan, akan tetapi peran seorang ibu, bapak, guru, lingkungan adalah menjadi hal yang sangat penting bagi pembetukan sebuah karakter individu yang merdeka, saleh, dan menjadi manusia yang seutuhnya.
Ini hanyalah sebuah catatan tentang usaha, cinta, dan mimpi. Maka ambillah pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
Jomblangan, 16 Januari 2011.
Read More..
Oleh: Guntur Akbar
“Dan katakanlah kebenaran telah dating dan kebathilan telah lenyap, sesungguhnya kebatilan akan benar benar hilang dan musnah”
Kehidupan yang dijalani oleh manusia di dunia, bersama makhluk ciptaan yang lainnya adalah sebuah perjalanan yang panjang dan penuh dengan misteri. Manusia dengan segala kelebihannya -sebagai mahkluk yang sempurna- dan dengan segala kekurangannya -sebagai hamba di hadapan pencipta- telah di siapkan bekal oleh pencipta untuk mengarungi misteri misteri yang akan di jalani.
Tulisan ini adalah hanya sekadar sebuah catatan tentang sebuah film, film yang tidak aku ingat sutradaranya, apalagi nama-nama bintangnya. Mungkin itu penting tapi yang lebih penting sbenarnya apa yang bisa kita ambil dari film tersebut. Film ini terdiri dari 30 episode, butuh 3 hari untuk menyelesaikannya, butuh kesiapan emosi untuk menontonnya karena alur cerita yang begitu dramatis, melankolis, humoris, meneganggkan sekaligus menjengkelkan. Ketika kita nonton film ini maka kita akan diajak tertawa, menangis, merenung, marah dan berifkir serius. Its so complicated.
Secara ringkas film ini bercerita tentang sebuah konspirasi besar dalam sebuah keluarga untuk merebutkan warisan perusahaan, sebuah perusahaan roti yang besar dan telah diwariskan turun temurun. Konspirasi ini dimulai dan dilakukan oleh pihak keluarga (istri) sang pengusaha. Dan ini tidak lain karena sang isri tidak bisa melahirkan seorang anak laki-laki, walau akhirnya dia melahirkan anak laki-laki dari hasil perselingkuhannya dengan seorang manager perusahaan, yang tidak lain adalah seorang kepercayaan big boss.
Ditengah harapan sang suami untuk mempunyai anak laki-laki, ia terjebak cinta semalam dengan perawat pribadinya dan menghasilkan seorang anak laki-laki yang jenius. Dengan kelahiran inilah maka konspirasi besar itu dimulai. Persaingan untuk mendapatkan simpati big boss pun dilakukan. Dan inilah sebuah cerita tentang roti, cinta dan mimpi. Sebuah drama Korea yang menarik, sarat dengan pelajaran, hikmah kehidupan, moralitas, kejujuran, etos kerja, perjuangan tanpa akhir, dan sebuah kekuatan dari mimpi.
Kalau mau di ambil pelajaran dari film ini tentunya ada bebarapa aspek yang bisa kita ambil, pendidikan, ekonomi, hukum, social, dan tentunya apa yang kita sebut dengan moralitas. Akan tetapi kita ambil satu saja hikmahnya, sebuah hikmah dari sebuah sudut pandang kemanusian. Dan tentunya ini erat berkaitan dengan apa yang tidak dimiliki oleh makhluk lain selain manusia, yakni sebuah hati nurani, dan ini kita sebut dengan fitroh.
Berbicara tentang hati nurani tentunya tidak akan membedakan agama ataupun suku bangsa, karena hati nurani adalah nilai universal yang dimiliki oleh setiap manusia, dia adalah nilai dasar bagi sebuah kebaikan manusia, ia tidak bisa di pengaruhi oleh kepentingan politik, tidak bisa di beli dengan materi duniawi, apalagi untuk sebuah ambisi yang sama sekali tidak manusiawi, karena ia langsung dibimbing oleh cahaya ilahi, cahaya Tuhan yang Maha Suci.
Tokoh utama dalam film ini (Kim Tak Gu) adalah orang yang selalu berbuat baik, selalu menuruti hati nuraninya sebagai manusia, memaafkan setiap kesalahan yang orang lain lakukan, bahkan ia sanggup berbuat baik terhadap orang yang telah mencelakakannya dan memisahkanya dengan orang tuanya. Inilah adalah sosok yang sekarang sangat sulit dicari, sifat yang dimiliki oleh para Nabi, Budha, Yesus, dan orang-orang yang disucikan dalam berbagai agama. Sebuah sifat yang mengilhami banyak orang, lingkungan sekitar bahkan masyarakat dunia.
Kim Tak Gu adalah seorang yang bahkan SD pun tidak selesai, sorang yang besar dan tumbuh berkembang di jalanan, dan guru bagi dirinya adalah kehidupan itu sendiri. Dalam umur yang masih 12 tahun ia harus mencari sosok seorang ibu, yang selama ini ia hormati, ia teladani, dan kata-katanya yang mejadi pegangan hidupnya. Nasehat ibunya… ya hanya nasehat itulah yang ia pegang, nasehat yang telah menjadi teks suci bagi dirinya. Hanya nasehat itulah yang akhirnya menghantarkanya untuk sebuah pertemuan yang sangat dramatis bagi ibunya. Kejujuran, rendah hati, pemaaf, peduli kepada orang lain dan kerja keras, itulah kalimat yang sederhana yang dinasehatkan oleh sang ibu, dan itu terpatri dalam sanubarinya.
Dalam perjalannya mencari sang ibu ia menghadapi banyak sekali rintangan, mulai dari usaha ibu tirinya, manager perusahaan bapaknya, saudara tirinya lain ibu, serta seorang lagi yang menjadi anak tiri bapaknya. Semua ia hadapai dengan senyuman, semua ia hadapi dengan hati yang ikhlas, semua perbuatan jahat ia balas dengan senyum dan kebaikan. Oii… manusia jenis apa ini, hanya dengan perbuatannya ia bisa mengubah banyk hal, hanya dengan sikapnya ia bisa menarik simpati banyak orang, hanya dengan sikapnya, banyak kebajikan ia hadirkan.
Kalau Sayyid Qutb dalam tafsirnya agatakan bahwa sebuah kebathilan yang besar sera terorganisir pada suatu saat akan tetap hancur dan musnah karena kebajikan yang dilakukan, sebuah perbuatan yang didasarkan pada hai nurani, senuah perbuatan yang dilakukan atas nama cita dasar kemanusiaan, sebuah perbuatan untuk menegakkan kebenaran. Dan memang sudah menjadi hokum bahwa kebenaran akan selalu menang.
Inilah kekuatan dari seorang manusia, ketika ia bisa menjalankan apa yang di katakan hati nuraninya, maka sekuata papaun kejahatan yang menggoyang ia akan tetap hidup sebagai manusia yang terhormat. Dan ini tidak begiu saja ia dapatkan, akan tetapi peran seorang ibu, bapak, guru, lingkungan adalah menjadi hal yang sangat penting bagi pembetukan sebuah karakter individu yang merdeka, saleh, dan menjadi manusia yang seutuhnya.
Ini hanyalah sebuah catatan tentang usaha, cinta, dan mimpi. Maka ambillah pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
Jomblangan, 16 Januari 2011.
Read More..
Rabu, 07 April 2010
Renungan Qobla Subuh
Oleh: Pauzan S. Al-Basmahi
Kehidupan yang memang penuh dengan kemunafikan, ego dan nafsu. Kesombongan telah membuat banyak kekacauan bahkan kehancuran di muka bumi ini…! Penindasan, pembodohan dan kesemena-menahan telah lama berlangsung dan masih berlangsung dan akan terus berlangsung hingga manusia sadar akan sebuah hakekat yang sebenarnya tentang dirinya dan makna “sebuah” kehidupan.
Tingginya tingkat pendidikan seseorang-yang diangggap sebagai ukuran moral dan kedewasaan seseorang- tidak membuktikan bahwa moral dan akhlaknya baik. Dan ini adalah realita yang kita saksikan dan itu ada di sekitar kita bahkan di sebuah “keluarga”.
Prinsip dan pegangan hidup yang ada dalam diri kita, -yang kadang kita anggap paling benar- kadang kala harus mengorbankan dan menindas orang lain. Tingginya ego dan kesombongan yang ada dalam diri manusia membuat ia merasa di atas segalanya, merendahkan orang lain, bahkan menafikan sebuah hakekat yang lebih tinggi dan itu tanpa kita sadari menyisakan sebuah konsekuensi yang harus kita hadapi.
Belajar dari pengalaman, berdialektika dengan realitas, serta mampu membaca kondisi sosial yang ada dikehidupan kita adalah suatu awal yang positif untuk menjadikan diri kita peka terhadap lingkungan, membuat kita sadar akan diri kita yang sebenarnya, membuat diri kita mengerti mengapa kita harus ada dimuka bumi ini dan membuat kita mampu menjadikan diri kita seorang manusia yang benar-benar seorang manusia dan menghormati sesama manusia.
Kenyataan-kenyataan pahit yang kadang kala menerpa kehidupan yang kita jalani adalah bagian dari sebuah proses pembelajaran yang berimplikasi pada tingkah laku kehidupan yang pada gilirannya nanti akan menjadikan kita manusia yang bebas, bijaksana, serta mengerti akan makna yang subtansial dalam realitas fana kehidupan. Orang-orang yang mampu melihat keadaan secara objektif akan bersikap cerdas dan proporsional dalam menyikapi hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan norma-norma sosial. Mereka akan melihat keadaan tersebut secara mendalam dan mempelajarinya hingga dapat menyimpulkan sebuah kesimpulan yang bisa diinternalisasikan kedalam dirinya secara pribadi.
Seandainya kita mau berfikir sejenak untuk mempertanyakan mengapa harus ada kesombongan, mengapa harus ada peperangan, keegoisan, kearifan, dan mengapa harus ada penindasan, serta mengapa Tuhan menciptakan hal-hal yang buruk pada diri manusia? Dan juga mengapa Tuhan menciptakan banyak kebaikan? Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sangat sederhana dan kalau kita mampu menjawab dengan pandangan-pandangan yang bijaksana maka suatu kesimpulan akan kita dapatkan serta membuat kita mengerti akan sebuah “arti”.
Kita, kadangkala dan seringkali terpesona dengan hal-hal yang bersifat sementara dan berbentuk formalitas belaka yang penuh dengan berbagai manipulasi dan kamuflase. Dan juga kita -sebagai manusia- sering kali bangga akan hal-hal yang kosong, memperdebatkan sesuatu tidak berarti bagi kehidupan. Dan parahnya, kita merasa bangga kalau apa yang kita lakukan menapatkan pujian dari orang lain, sebaliknya kita akan pesimis dan menyerah ketika pekerjaan kita dikritik dan dicela oleh orang lain. Optimisme yang kadang harus kita bangun dari kegagalan tidak membuat hati kita sadar betapa banyak yang harus kita kerjakaan untuk hidup ini, hidup yang sangat singkat dan harus diisi dengan kebaikan-kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain.
Menjadikan hidup kita mulia tidak hanya dengan mengutarakan argumentai-argumentasi langit yang tidak difahami makhluk bumi, tidak juga dengan menyimpan sejuta teori pengetahuan untuk diperdebatkan, akan tetapi dengan langkah keberanian yang bijaksana, dengan pengetahuan yang digunakan untuk menjawab tantangan real sosial mayarakat.
Hidup berarti bergerak. Bergerak untuk memberikan kenyamanan dan kebaikan bagi orang lain.
Read More..
Kehidupan yang memang penuh dengan kemunafikan, ego dan nafsu. Kesombongan telah membuat banyak kekacauan bahkan kehancuran di muka bumi ini…! Penindasan, pembodohan dan kesemena-menahan telah lama berlangsung dan masih berlangsung dan akan terus berlangsung hingga manusia sadar akan sebuah hakekat yang sebenarnya tentang dirinya dan makna “sebuah” kehidupan.
Tingginya tingkat pendidikan seseorang-yang diangggap sebagai ukuran moral dan kedewasaan seseorang- tidak membuktikan bahwa moral dan akhlaknya baik. Dan ini adalah realita yang kita saksikan dan itu ada di sekitar kita bahkan di sebuah “keluarga”.
Prinsip dan pegangan hidup yang ada dalam diri kita, -yang kadang kita anggap paling benar- kadang kala harus mengorbankan dan menindas orang lain. Tingginya ego dan kesombongan yang ada dalam diri manusia membuat ia merasa di atas segalanya, merendahkan orang lain, bahkan menafikan sebuah hakekat yang lebih tinggi dan itu tanpa kita sadari menyisakan sebuah konsekuensi yang harus kita hadapi.
Belajar dari pengalaman, berdialektika dengan realitas, serta mampu membaca kondisi sosial yang ada dikehidupan kita adalah suatu awal yang positif untuk menjadikan diri kita peka terhadap lingkungan, membuat kita sadar akan diri kita yang sebenarnya, membuat diri kita mengerti mengapa kita harus ada dimuka bumi ini dan membuat kita mampu menjadikan diri kita seorang manusia yang benar-benar seorang manusia dan menghormati sesama manusia.
Kenyataan-kenyataan pahit yang kadang kala menerpa kehidupan yang kita jalani adalah bagian dari sebuah proses pembelajaran yang berimplikasi pada tingkah laku kehidupan yang pada gilirannya nanti akan menjadikan kita manusia yang bebas, bijaksana, serta mengerti akan makna yang subtansial dalam realitas fana kehidupan. Orang-orang yang mampu melihat keadaan secara objektif akan bersikap cerdas dan proporsional dalam menyikapi hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan norma-norma sosial. Mereka akan melihat keadaan tersebut secara mendalam dan mempelajarinya hingga dapat menyimpulkan sebuah kesimpulan yang bisa diinternalisasikan kedalam dirinya secara pribadi.
Seandainya kita mau berfikir sejenak untuk mempertanyakan mengapa harus ada kesombongan, mengapa harus ada peperangan, keegoisan, kearifan, dan mengapa harus ada penindasan, serta mengapa Tuhan menciptakan hal-hal yang buruk pada diri manusia? Dan juga mengapa Tuhan menciptakan banyak kebaikan? Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sangat sederhana dan kalau kita mampu menjawab dengan pandangan-pandangan yang bijaksana maka suatu kesimpulan akan kita dapatkan serta membuat kita mengerti akan sebuah “arti”.
Kita, kadangkala dan seringkali terpesona dengan hal-hal yang bersifat sementara dan berbentuk formalitas belaka yang penuh dengan berbagai manipulasi dan kamuflase. Dan juga kita -sebagai manusia- sering kali bangga akan hal-hal yang kosong, memperdebatkan sesuatu tidak berarti bagi kehidupan. Dan parahnya, kita merasa bangga kalau apa yang kita lakukan menapatkan pujian dari orang lain, sebaliknya kita akan pesimis dan menyerah ketika pekerjaan kita dikritik dan dicela oleh orang lain. Optimisme yang kadang harus kita bangun dari kegagalan tidak membuat hati kita sadar betapa banyak yang harus kita kerjakaan untuk hidup ini, hidup yang sangat singkat dan harus diisi dengan kebaikan-kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain.
Menjadikan hidup kita mulia tidak hanya dengan mengutarakan argumentai-argumentasi langit yang tidak difahami makhluk bumi, tidak juga dengan menyimpan sejuta teori pengetahuan untuk diperdebatkan, akan tetapi dengan langkah keberanian yang bijaksana, dengan pengetahuan yang digunakan untuk menjawab tantangan real sosial mayarakat.
Hidup berarti bergerak. Bergerak untuk memberikan kenyamanan dan kebaikan bagi orang lain.
Read More..
Menumbuhkan Kembali Kesadaran Kritis Mahasiswa
Oleh: Pauzan Al- Basmahi
Kemerdekaan bangsa Indonesia yang dideklarasikan pada tahun 1945 oleh Sukarno dan Hatta merupakan karunia terbesar bagi bangsa ini. Sekian lama dijajah, selama itu juga rakyat Indonesia berjuang dengan jiwa dan raganya untuk merebut kembali tanah air dari tangan-tangan penjajah. Berbicara masalah perjuangan rakyat Indonesia untuk meraih kemerdekaan, kita tidak akan terlepas dari gerakan-gerakan sosial yang ada saat itu, salah satunya gerakan mahasiswa yang terbentuk dalam organisasi pemuda. Seperti gerakan Budi Oetomo ( 1908 ), Perhimpunan Indonesia, dan dari gerakan inilah muncullah beberapa kelompok studi yang berproses menjadi sebuah pemikiran dan pergerakan yang kemudian keluarlah momentum bersejarah yakni Sumpah Pemuda.
Semangat para pemuda pada zaman kemerdekaan tidak berhenti dengan tercapainya kemerdekaan dan tidak juga hilang ditelan sejarah. Spirit para pemuda tersebut mengalir kepada para mahasiswa, sebut saja terbentuknya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia sebagai kontrol pemerintahan Soekarno yang mulai yang keluar jalur demokrasi menjadi otoriteranisme. Sejarah peran mahasiswa sebagai kontrol pemerintah berulang lagi hingga pada rezim orde baru sebelum masa reformasi. Runtuhnya rezim orde baru pada tahun 1998 adalah bukti bahwa mahasiswa pada waktu itu menjadi contoh bahwa mahasiswa mempunyai peran yang sangat urgen bagi majunya negara indonesia.
Gerakan mahasiswa pada tahun 1998 adalah imbas dari ketidakpuasan mereka terhadap rezim yang tidak lagi memihak kepada kepntingan-kepentingan rakyat, sehingga menjadi tuntutuan agar reformasi segera dilaksanakan.
Pemerintahan reformasi telah berjalan, akan tetapi kekecewaan yang dirasakan oleh rakyat semakin mendalam, perubahan yang diharapkan oleh rakyat dan tuntutan yang yang dikehendaki mahasiswa hanya sekedar perubahan orang-orang yang ada pada tingkat elit politik pemerintahan. Pemerintahan yang baru hanya bisa menghasilkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan orang-orang yang mempunyai kepentingan. Hak-hak rakyat kecil semakin di singkirkan dan tidak diperjuangkan, masyarakat miskin kota dan kaum miskin lainnya semakin tersisih dan dianggap sebagai sampah yang hanya menjadi beban bagi negara. Ini terbukti dengan semakin banyaknya pembangunan-pembangunan fisik yang sama sekali tidak berguna dengan barbagai macam alasan dan dalih, lagi-lagi orang-orang miskin hanya menjadi korban dengan adanya penggusuran-pengusuran, dan kebijakan-kebijakan yang ”sok” mementingkan rakyat padahal tidak sama sekali.
Pergantian pemerintahan orde baru bukanlah sebuah solusi, karena elit-elit politik yang ada di dalamnya adalah ”murid-murid” yang patuh pada guru-guru mereka yakni para antek-antek orde baru. Para murid yang hanya bisa menjalankan apa yang pernah ”diajarkan” oleh guru mereka, dan layaknya seorang murid yang patuh mereka harus mencontoh dan mentauladani guru mereka. Dan sekali lagi, reformasi telah gagal dan tuntutan para mahasiswa agar terjadinya perubahan menuju kearah yang lebih tidak terpenuhi.
Salah satu gerakan mahasiswa yang tidak hanya menghendaki pegantian presiden yakni HMI MPO, para aktivis yang ada didalamnya menuntut agar perubahan tidak hanya terjadi pada pergantian orang-orang yang ada pada elit pemerintahan akan tetapi semua sistem yang ada dalam pemerintahan agar segera di ganti, dan revolusi adalah sebuah pilihan yang diyakini bisa mengobati dan memulihkan stbilitas negara kita yang sudah jauh dari masyarakat yang tamaddun, masyarakat yang sejahtera dengan pemerintahan yang berpihak pada kaum miskin dan mensejahterakan rakyat miskin.
Reformasi telah lama berlalu dan pemerintahan telah mengalami berapa kali pergantian, perubahan-perubahan banyak terjadi dalam berberapa aspeknya. Perjuangan dan pergerakan mahasiswa pada masa orde baru dan sebelum reformasi hanya tinggal menjadi cerita dan kenangan bagi para mahasiswa, bahwa dulunya mahasiswa mempunyai peran yang penting bagi kemajuan dan perubahan bangsa kita ini.
Mahasiswa juga semakin terlena dengan kondisi sekarang ini seakan-akan mereka ditidurkan dan dibutakan dengan kondisi real soial yang ada di sekitar mereka. Para mahasiswa telah lupa dengan tugas utama mereka yakni sebagi control sosial yang berperan bagi kemajuan dan perubahan. Kebijakan-kebijakan pemerintah serta peraturan-peraturan kampus yang semakin mendukung bagi mahasiswa untuk tetap diam dan duduk manis di kamar mengerjakan tugas-tugas dari dosen supaya mereka cepat lulus dan mendapat gelar sarjana. Secara tidak sadar, mahasiswa dibatasi geraknya dan dilenakan dari kondisi yang ada disekitar mereka. mahasiswa sekarang bagaikan sekor ayam jago yang kehilangan tajinya, dan tak bisa berbuat apa-apa kecuali bersikap seperti ayam betina yang hanya bisa mencari makan dan menjadi korban ayam jantan yang lebih kuat.
Spirit dan perjuangan para pendahulunya seakan hanya sebuah dongeng sebelum tidur dan tidak bisa menjadi motivasi bagi mereka untuk tetap berjuang bagi masyarakat. Duduk manis mendengarkan ocehan dosen adalah hal yang lebih berharga dibandingkan dengan diskusi dan mencoba untuk melihat kebijakan yang berat sebelah serta mencoba untuk mencari solusi yang konstruktif bagi masyarakat.
Keadaan telah berubah dan sejarah takkan mungkin terulang akan tetapi sprit yang dulu pernah dibangun oleh para mahasiswa setidaknya bisa membangunkan kita dari tidur dan keterlenaan kita, mengingatkan kita dari kelupaan bahwa mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab yang tidak hanya sekedar belajar dan menelaah buku akan tetapi lebih dari itu mahasiswa menjadi barometer bagi sebuah perubahan progressif dan kritis terhadap kebejikan-kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada rakyat kecil.
Mahasiswa yang mempunyai kadar intelektual lebih dari masyarakat biasa dituntut untuk tetap peka dengan keadaan dan tetap bergerak serta bisa menghasilkan dobrakan-dobrakan yang revolusioner membawa kemajuan bagi dirinya dan masyarakat serta negara. Bahkan bagi para mahasiswa perjuangan yang akan dihadapi bukan hanya sekedar kritis terhadap kondisi politik kampus, lebih dari itu mencari penyebab keterbelakangan kondisi negara dan masyarakat serta turut bertanggung jawab untuk mencari solusi yang bisa membuat masyarakat dan negara ini maju dan berperadaban.
Peraturan dan kebijakan-kebijakan kampus yang ada, setidakanya tidak menjadikan nyali para aktivis ciut untuk tetap bergerak dan berjuang, serta tidak terjebak dalam birokrasi kampus dan permainan politik pendidikan. Dan sebaliknya hal ini bisa menjadi pemicu bagi mahasiswa untuk tetap cepat tanggap dan kritis dengan keadaan.
Read More..
Kemerdekaan bangsa Indonesia yang dideklarasikan pada tahun 1945 oleh Sukarno dan Hatta merupakan karunia terbesar bagi bangsa ini. Sekian lama dijajah, selama itu juga rakyat Indonesia berjuang dengan jiwa dan raganya untuk merebut kembali tanah air dari tangan-tangan penjajah. Berbicara masalah perjuangan rakyat Indonesia untuk meraih kemerdekaan, kita tidak akan terlepas dari gerakan-gerakan sosial yang ada saat itu, salah satunya gerakan mahasiswa yang terbentuk dalam organisasi pemuda. Seperti gerakan Budi Oetomo ( 1908 ), Perhimpunan Indonesia, dan dari gerakan inilah muncullah beberapa kelompok studi yang berproses menjadi sebuah pemikiran dan pergerakan yang kemudian keluarlah momentum bersejarah yakni Sumpah Pemuda.
Semangat para pemuda pada zaman kemerdekaan tidak berhenti dengan tercapainya kemerdekaan dan tidak juga hilang ditelan sejarah. Spirit para pemuda tersebut mengalir kepada para mahasiswa, sebut saja terbentuknya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia sebagai kontrol pemerintahan Soekarno yang mulai yang keluar jalur demokrasi menjadi otoriteranisme. Sejarah peran mahasiswa sebagai kontrol pemerintah berulang lagi hingga pada rezim orde baru sebelum masa reformasi. Runtuhnya rezim orde baru pada tahun 1998 adalah bukti bahwa mahasiswa pada waktu itu menjadi contoh bahwa mahasiswa mempunyai peran yang sangat urgen bagi majunya negara indonesia.
Gerakan mahasiswa pada tahun 1998 adalah imbas dari ketidakpuasan mereka terhadap rezim yang tidak lagi memihak kepada kepntingan-kepentingan rakyat, sehingga menjadi tuntutuan agar reformasi segera dilaksanakan.
Pemerintahan reformasi telah berjalan, akan tetapi kekecewaan yang dirasakan oleh rakyat semakin mendalam, perubahan yang diharapkan oleh rakyat dan tuntutan yang yang dikehendaki mahasiswa hanya sekedar perubahan orang-orang yang ada pada tingkat elit politik pemerintahan. Pemerintahan yang baru hanya bisa menghasilkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan orang-orang yang mempunyai kepentingan. Hak-hak rakyat kecil semakin di singkirkan dan tidak diperjuangkan, masyarakat miskin kota dan kaum miskin lainnya semakin tersisih dan dianggap sebagai sampah yang hanya menjadi beban bagi negara. Ini terbukti dengan semakin banyaknya pembangunan-pembangunan fisik yang sama sekali tidak berguna dengan barbagai macam alasan dan dalih, lagi-lagi orang-orang miskin hanya menjadi korban dengan adanya penggusuran-pengusuran, dan kebijakan-kebijakan yang ”sok” mementingkan rakyat padahal tidak sama sekali.
Pergantian pemerintahan orde baru bukanlah sebuah solusi, karena elit-elit politik yang ada di dalamnya adalah ”murid-murid” yang patuh pada guru-guru mereka yakni para antek-antek orde baru. Para murid yang hanya bisa menjalankan apa yang pernah ”diajarkan” oleh guru mereka, dan layaknya seorang murid yang patuh mereka harus mencontoh dan mentauladani guru mereka. Dan sekali lagi, reformasi telah gagal dan tuntutan para mahasiswa agar terjadinya perubahan menuju kearah yang lebih tidak terpenuhi.
Salah satu gerakan mahasiswa yang tidak hanya menghendaki pegantian presiden yakni HMI MPO, para aktivis yang ada didalamnya menuntut agar perubahan tidak hanya terjadi pada pergantian orang-orang yang ada pada elit pemerintahan akan tetapi semua sistem yang ada dalam pemerintahan agar segera di ganti, dan revolusi adalah sebuah pilihan yang diyakini bisa mengobati dan memulihkan stbilitas negara kita yang sudah jauh dari masyarakat yang tamaddun, masyarakat yang sejahtera dengan pemerintahan yang berpihak pada kaum miskin dan mensejahterakan rakyat miskin.
Reformasi telah lama berlalu dan pemerintahan telah mengalami berapa kali pergantian, perubahan-perubahan banyak terjadi dalam berberapa aspeknya. Perjuangan dan pergerakan mahasiswa pada masa orde baru dan sebelum reformasi hanya tinggal menjadi cerita dan kenangan bagi para mahasiswa, bahwa dulunya mahasiswa mempunyai peran yang penting bagi kemajuan dan perubahan bangsa kita ini.
Mahasiswa juga semakin terlena dengan kondisi sekarang ini seakan-akan mereka ditidurkan dan dibutakan dengan kondisi real soial yang ada di sekitar mereka. Para mahasiswa telah lupa dengan tugas utama mereka yakni sebagi control sosial yang berperan bagi kemajuan dan perubahan. Kebijakan-kebijakan pemerintah serta peraturan-peraturan kampus yang semakin mendukung bagi mahasiswa untuk tetap diam dan duduk manis di kamar mengerjakan tugas-tugas dari dosen supaya mereka cepat lulus dan mendapat gelar sarjana. Secara tidak sadar, mahasiswa dibatasi geraknya dan dilenakan dari kondisi yang ada disekitar mereka. mahasiswa sekarang bagaikan sekor ayam jago yang kehilangan tajinya, dan tak bisa berbuat apa-apa kecuali bersikap seperti ayam betina yang hanya bisa mencari makan dan menjadi korban ayam jantan yang lebih kuat.
Spirit dan perjuangan para pendahulunya seakan hanya sebuah dongeng sebelum tidur dan tidak bisa menjadi motivasi bagi mereka untuk tetap berjuang bagi masyarakat. Duduk manis mendengarkan ocehan dosen adalah hal yang lebih berharga dibandingkan dengan diskusi dan mencoba untuk melihat kebijakan yang berat sebelah serta mencoba untuk mencari solusi yang konstruktif bagi masyarakat.
Keadaan telah berubah dan sejarah takkan mungkin terulang akan tetapi sprit yang dulu pernah dibangun oleh para mahasiswa setidaknya bisa membangunkan kita dari tidur dan keterlenaan kita, mengingatkan kita dari kelupaan bahwa mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab yang tidak hanya sekedar belajar dan menelaah buku akan tetapi lebih dari itu mahasiswa menjadi barometer bagi sebuah perubahan progressif dan kritis terhadap kebejikan-kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada rakyat kecil.
Mahasiswa yang mempunyai kadar intelektual lebih dari masyarakat biasa dituntut untuk tetap peka dengan keadaan dan tetap bergerak serta bisa menghasilkan dobrakan-dobrakan yang revolusioner membawa kemajuan bagi dirinya dan masyarakat serta negara. Bahkan bagi para mahasiswa perjuangan yang akan dihadapi bukan hanya sekedar kritis terhadap kondisi politik kampus, lebih dari itu mencari penyebab keterbelakangan kondisi negara dan masyarakat serta turut bertanggung jawab untuk mencari solusi yang bisa membuat masyarakat dan negara ini maju dan berperadaban.
Peraturan dan kebijakan-kebijakan kampus yang ada, setidakanya tidak menjadikan nyali para aktivis ciut untuk tetap bergerak dan berjuang, serta tidak terjebak dalam birokrasi kampus dan permainan politik pendidikan. Dan sebaliknya hal ini bisa menjadi pemicu bagi mahasiswa untuk tetap cepat tanggap dan kritis dengan keadaan.
Read More..
Langganan:
Entri (Atom)